Texaspoker Wigobet AFAPOKER RGOBET

Kubiarkan Bulu Ketiakku Melebat

6th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 312 Views | No Comments
x X

www.sang-pakar.top Kubiarkan Bulu Ketiakku Melebat

Aku yakin, tiada yang salah dengan
diriku. Aku tak merasa menyimpang, meskipun mungkin berbeda dari
mayoritas wanita masa kini. Wanita karier. Wanita pembaca Cosmopolitan
& Kosmopolitan. Wanita pembaca Cita & Cinta.

Aku
beruntung. Alam memberiku tulang bagus, tubuh kencang, kulit terang,
binar mata membelalak,dan campuran exotic-asiatic chinese-jawa-ceko.
Tinggiku 167 cm. Beratku 48 kg.

Breast-ku memang di bawah 34,
tapi aku yakin masih kencang, karena dalam usiaku yang ke 35 ini aku
belum melahirkan, belum menyusui. Mungkin tak akan melahirkan, tak akan
menyusui, karena pernikahan bukan sebuah cita-cita bagiku.

Rambutku
lurus, kupotong pendek setengkuk. Ada bulu halus kepirang-pirangan di
leherku, di punggungku. Ada pula bulu halus kehitaman, lembut, di
tanganku. Akan tetapi anehnya, di kakiku tak banyak tumbuh bulu. Memang
ada, tetapi masih dalam batas kewajaran. Tanpa kubalut dengan stocking
pun bulu itu tak kentara.

Saat awal kematangan remaja
menjemputku, di bawah lenganku tumbuh bulu, yang selalu kupangkas,
dengan lady shaver. Ketika usiaku 24 tahun, bulu itu rasanya kian
menebal dan kaku, tak lagi tipis. Maka setiap akhir pekan aku pun harus
mencabutinya. Sudah kucoba ke salon untuk dimatikan. Baik dengan lilin
maupun listrik. Tapi pada bulan ketiga tumbuh lagi, tipis, tak selebat
dulu. Maka aku pun kembali kepada metode pencabutan sepekan sekali.

Lama-lama
aku merasa terjajah dengan ritus pencabutan yang kadang menyakitkan
itu. Memang dengan ketiak licin bersih aku merasa lebih cemerlang,
lebih percaya diri, terutama di kolam renang, ruang senam, dan fitness
centre. Lebih percaya diri ketika hadir di resepsi dengan gaun tanpa
lengan. Putih kulitku seolah tak bercacat, tak bernoda.

Pada
umur 30 tahun sampailah aku kepada suatu kesadaran. Bahwa apapun
keadaan tubuhku itu sepenuhnya hakku untuk mengaturnya. Andaikan saja
aku gembrot, dan dokter tak melarangnya, maka aku menjalani hidup
dengan tubuh melar. Andaikan tubuhku kurus kering, dengan berat cuma 35
kg, dan dokter menyatakan aku sehat, maka aku akan menikmatinya.

Pernah
terpikir olehku sebelumnya, terutama saat remaja sampai usia 29 tahun,
untuk memiliki payudara di atas ukuran 36, tanpa usaha untuk
memperbesarkannya tapi itu hanya sebatas khayalan.

Dalam usia 30
tahun itulah aku sadar dan bersyukur, bahwa kecil bukitku tak mengubah
pesona kewanitaanku. Aku sadar bahwa aku tetap sexy dengan ukuran
segitu. Tubuhku adalah milikku.Itulah kesadaran baruku. Maka sejak
itulah kubiarkan bulu ketiakku tumbuh alami, seperti tanaman bersulur
mencari jalannya sendiri. Sepanjang-panjangnya bulu ketiak dia takkan
menjulur sampai ke siku. Bila kuukur, maka julurkan bulu ketiakku, yang
lurus, hitam, dan rapat itu,mencapai 7-9 cm. Alangkah indahnya,
alangkah naturalnya. Tapi aku tak membanggakannya, dengan
menunjukkannya secara demonstratif, baik di kolam renang, ruang
fitness, maupun senam. Orang lain melihat, menatap, karena ada saat
lenganku harus terangkat. Jadi bukan karena aku, tanpa alasan,
mengangkat lengan agar mata lain menatap lama.

Aku tak munafik.
Ada sedikit rasa nakal, dan sejumput kebanggaan, saat seorang ABG di
kolam renang menatap takjub bulu ketiakku, waktu aku berjemur di kursi
kolam, pada sebuah hotel di Bali. Ibunya jengah, akhirnya menggamit
anak itu.

Aku tahu beberapa lelaki dewasa kadang mencuri pandang
ke arah semak belukar di bawah lenganku.Baik di kolam renang maupun
fitness. Suatu malam, di kafe, saat perayaan ultah temanku, aku
menyadari sekian banyak pasang mata menatap rumput yang menyembul dari
baju you can see-ku.

Yach, aku bukan exhibitionist. Tapi akupun
tak pernah menutup-nutupi bulu ketiakku. Tampak atau tak tampak,
kubiarkan wajar apa adanya. Bila ada orang lain terhibur oleh bulu
ketiakku, itu karunia buat mereka. Bila ada orang lain terganggu dan
risih oleh bulu ketiakku, itu masalahmereka sendiri, bukan urusanku.

Mereka tak pernah menyatakan opininya terus terang. Hanya teman-teman senam yang berkomentar, “Gileee, lebat amat…”

Mereka terbagi dua. Ada yang bilang, “Lu terlalu deh. Emang nggak risih miara bulu ketek selebat itu?”

Yang
lain menyatakan, “Adduhhh… kalo gue laki apa lesbi, udah gue terkam
ketek lu!” Atau, “Gue pingin tuh kayak lu, tapi bulu gue dikit, padahal
laki gue paling demen ama bulu ketek dan bulu bawah.. Kalo doi ngeliat
lu, bisa-bisa gue cemburu, soalnya doi pasti akan ereksi..”

Bagaimana
dengan pria yang pernah intim denganku? Ada yang risih, dan menghindari
pandang dari ketiakku saat kami bercumbu. Tapi ada juga, beberapa orang
(sayang semuanya putus, karena aku nggak cocok), yang jadi menyala,
berkobar-kobar, kalau menatap ketiakku, menciumi bulunya, bahkan
menjilatinya.

Aku sendiri merasa nikmat ketika pasanganku bisa
mengapresiasi, kadang dengan nafsu meluap, kepada bidang sempit yang
berbulu, saat lenganku terentang itu. Aku tak terlalu tergantung kepada
lelaki. Aku tak butuh suami. Maka ketika hubungan putus aku pun tak
menderita berkepanjangan. Tetapi sebagai wanita normal, ada kalanya aku
butuh penuntasan hasrat, yang meronta dan memberontak dari dalam
tubuhku.

Sama seperti wanita normal lainnya, maka ketika saat
menggelisahkan itu datang, kala hasrat itu begitu menguat, maka aku pun
melakukan cara yang naluriah, secara sendirian, untuk melepaskan
ketegangan. Ketika kedua tanganku menjelajahi semua sudut tubuhku yang
bisa memacuku menuju titik didih, ketika itu pula aku menciumi bulu
ketiakku. Kadang kujilati sendiri. Leherku yang jenjang seolah
memudahkanku untuk mengantar lidahku menjelajahi ujung bulu ketiak.

Beberapa
kali terjadi, saat hasrat begitu memuncak, dan ketegangan begitu
meninggi, aku melayani diriku di depan cermin, dengan berdiri, kadang
satu kaki bertumpu pada kursi, sambil mengangkat lengan, sambil
menjilati ujung bulu ketiak yang panjang, lebat dan lurus itu,
sementara tanganku melakukan segala hal yang mungkin untuk mengantarku
menuju gerbang kokoh-misterius yang bisa melegakan dan mengendurkan
kegelisahan.

Pada awal tulisan ini mulanya aku malu untuk
menceritakan bagian lain yang berbulu lebat, di luar ketiakku.
Akhirnya, yach.. sekalian saja kubuka.

Menjelang usia 30 tahun,
karena pengaruh lingkungan, aku memangkas bulu lurus lebat di bawah
itu. Teman-teman buleku, teman-teman Indoku, pada melakukannya, agar
bikini line menjadi sempurna, tanpa cacat. Juga agar, katanya, bagian
paling pribadi itu lebih higienis.

Pertama kali melakukan, aku
tak menghasilkan karya yang rapih. Tapi pada saat kedua, justru terlalu
pendek, sehingga menyerupai landak, ujung bulu bisa menyerobot keluar
dari baju renangku. Pada kali berikutnya, aku bisa melakukannya lebih
rapi, sebulan sekali.

Bersamaan dengan kesadaran untuk menjadi
diriku sendiri, pada usia 30 tahun itu, maka trimming itu kuhentikan.
Bulu itu tumbuh alami, seperi tanaman bersulur merambat sampai puncak
pertumbuhannya. Kini panjangnya tetap, 10-12 cm.

Sudah kubilang,
aku bukan exhibitionist. Tetapi kadang ada juga dorongan nakal yang
menggodaku.Beberapa kali di kolam renang dan spa, kusengajakan untuk
membimbing beberapa helai rumput itu menerobos bagian bawah baju
renangku, dan bergaya seolah-olah aku tak menyadarinya. Seolah cuek
saja. Tapi dari balik kacamata hitamku, aku bisa mengetahui pelototan
mata penuh nafsu dari lawan jenisku. Dari seorang bocah seusia kelas 2
SMP sampai seorang bapak berumur 50-an.Apakah yang mereka bayangkan?
Bukan urusanku untuk tahu.

Dalam kehidupan intimku sejak usia 30
tahun, hutan belantara di bawah itu bisa dianggap menggangu oleh
pasanganku, bisa pula justru membakar gairah. Pria bule cenderung
menyukai hamparan lahan tanpa hutan. Sedangkan pria lokal terbagi dua.
Ada yang suka, bahkan bisa blingsatan, kepada rimba belantaraku.
Selebihnya, kurang suka tapi bisa mentoleransi.

Begitu lebatnya rain forest-ku,
sehingga bila aku berdiri dalam keadaan nude, maka sepasang mata minus
5 (tanpa kacamata), dari kejauhan akan mengiranya aku memakai CD hitam
ukuran mini atau tanga.Mulai usia 30 tahun pula aku meng-explore
seluruh pesona kewanitaanku. Mungkin telat untuk ukuran rata-rata
wanita sebaya. Pada hari senggang, saat aku merawat kuku, menghapus dan
mengganti warna cat kuku, dan setelah memasker wajah, maka aku sering
duduk dengan posisitertentu (haruskah aku deskripsikan?), dengan
mendekati sumber cahaya (jendela maupun lampu berlengan), dengan cermin
dua muka (satu normal, satu seperti berlensa pembesar) menghadap ke
pusat kewanitaanku.

Kuamati bentuknya. Kucoba memahami mengapa
lawan jenisku suka. Kubayangkan banyak hal yang pernah dijalani oleh si
mungil dengan banyak tanaman yang mengelilinginya itu. Kadang jemariku
memainkan permukaan berkatup, dan titik kecil yang bisa membesar.

Saat
nikmat mulai menjemput, saat itu pula cerminku memberikan gambaran
tentang perubahan warna permukaan pintu ruang, dan dinding dalam yang
terkuak. Cerminku pun mengabarkan liputan pandangan mata, tentang
rembesan cairan bening dari lorong, yang menjadikan pintu dan dinding
dalam-luar berkilat.

Ketika aku makin gila menakali diriku
sendiri, kadang dengan menciumi ujung bulu ketiakku, sementara tanganku
mengikuti naluri untuk merambah bagian paling intim, saat itu pula
kuperhatikan permukaan cermin. Pucuk-pucuk pohon belantara itu tak rapi
lagi, seperti habis terkena hujan badai. Beberapa tajuk pohon saling
merapat. Semuanya basah. Dengan bau khas, yang entah kenapa, aku
sendiri suka, begitupun para pasanganku. Kadang kucicipi rasa dan aroma
khas nakal itu dengan jemariku, yang kuoleskan ke lidahku dan bibirku.

Hari-hari
terus berlalu. Usiaku terus merambat. Menjadi tua adalah alami. Tapi
mencoba merawat diri, agar tak menjadi wanita berwajah dan bersosok
nenek sebelum saatnya, apa salahnya bukan?Terus menikmati kehidupan
lajang, dengan segala cara memenuhi hasrat matang kewanitaanku,
termasuk dengan memanfaatkan bulu-bulu tubuhku, baik untuk sensasiku
sendiri maupun pasanganku, juga wajar bukan?

Kujalani hari-hari
menyenangkan sebagai lajang dengan bulu ketiak lebat dan bulu rahasia
yangtebal. Wahai para wanita, kalau suka, kalian bisa meniruku. Bila
tak suka, aku pun tetap menghargai pilihan kalian. Sama seperti aku
mengharapkan kalian menghargai jalan berbuluku.

SEKIAN                   

Kubiarkan Bulu Ketiakku Melebat